The Framing Effect
bagaimana cara penyampaian data yang sama bisa menghasilkan keputusan yang berbeda
Pernahkah kita berdiri di lorong supermarket, menatap dua bungkus daging giling yang bersebelahan? Bungkus pertama memiliki label besar berwarna hijau bertuliskan "80% Daging Tanpa Lemak". Bungkus kedua memiliki label merah bertuliskan "Mengandung 20% Lemak".
Jika teman-teman seperti kebanyakan orang, tangan kita secara otomatis akan meraih bungkus pertama. Daging "tanpa lemak" terdengar jauh lebih sehat, lebih segar, dan lebih aman untuk lingkar pinggang kita.
Namun, mari kita berhenti sejenak dan melihat fakta matematikanya. Kedua bungkus daging tersebut sebenarnya identik. Seratus persen sama. Daging yang 80% tanpa lemak pasti mengandung 20% lemak. Lalu, mengapa otak kita bereaksi begitu berbeda terhadap dua hal yang persis sama?
Selamat datang di sebuah jebakan psikologis yang kita hadapi setiap hari. Sebuah fenomena di mana cara dunia bercerita kepada kita, secara diam-diam membajak keputusan yang kita buat.
Kejadian di lorong supermarket tadi bukanlah sekadar trik marketing murahan. Ini adalah celah fundamental dalam arsitektur otak manusia.
Selama berabad-abad, para ahli ekonomi dan filsuf berasumsi bahwa manusia adalah makhluk yang sangat rasional. Kita diasumsikan selalu menimbang data, menghitung untung-rugi, dan mengambil keputusan yang paling masuk akal. Asumsi ini terdengar indah, tetapi sayangnya, tidak akurat.
Pada akhir tahun 1970-an, dua psikolog brilian, Amos Tversky dan Daniel Kahneman, mulai membongkar mitos tersebut. Mereka menunjukkan bahwa manusia bukanlah kalkulator berjalan. Kita adalah makhluk emosional yang kebetulan bisa berpikir. Tversky dan Kahneman menemukan bahwa bagaimana sebuah informasi dibingkai—atau disampaikan—jauh lebih menentukan daripada apa isi informasi itu sendiri.
Mereka menyebutnya sebagai The Framing Effect atau efek pembingkaian. Menyadari hal ini mungkin membuat kita merasa sedikit rentan. Namun, seberapa jauh efek ini bisa memanipulasi kita? Apakah sebatas memilih daging giling, atau bisa sampai mengubah kompas moral kita dalam urusan hidup dan mati?
Untuk menjawabnya, Tversky dan Kahneman merancang sebuah eksperimen yang kini sangat legendaris. Eksperimen ini begitu kuat hingga mengubah lanskap ilmu psikologi modern. Mari kita bayangkan kita sedang menjadi pembuat kebijakan negara.
Ada wabah penyakit mematikan yang diprediksi akan menewaskan 600 orang. Teman-teman dihadapkan pada dua pilihan program penanganan.
Jika kita memilih Program A, 200 orang akan diselamatkan.
Jika kita memilih Program B, ada sepertiga (1/3) kemungkinan 600 orang selamat, dan dua pertiga (2/3) kemungkinan tidak ada yang selamat.
Sebagian besar orang, sekitar 72%, langsung memilih Program A. Kita lebih suka kepastian menyelamatkan 200 nyawa daripada mengambil risiko.
Sekarang, mari kita putar skenarionya. Kepada kelompok orang yang berbeda, mereka diberikan data penyakit yang sama, dengan pilihan yang ditulis seperti ini:
Jika Program C dipilih, 400 orang akan mati.
Jika Program D dipilih, ada sepertiga (1/3) kemungkinan tidak ada yang mati, dan dua pertiga (2/3) kemungkinan 600 orang mati.
Mendengar ini, persentase berbalik drastis. Sebanyak 78% orang kini memilih Program D. Mereka tiba-tiba berani mengambil risiko.
Tunggu sebentar. Mari kita perhatikan baik-baik. Program A dan C adalah hal yang persis sama (menyelamatkan 200 dari 600 orang, berarti 400 orang mati). Program B dan D juga persis sama. Matematikanya tidak berubah sedikit pun. Jadi, apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepala kita saat kata "diselamatkan" diganti dengan kata "mati"?
Inilah rahasia terbesarnya. Otak kita tidak memproses fakta absolut. Otak kita memproses konteks. Dan konteks ini sangat dipengaruhi oleh insting purba yang bernama loss aversion (penghindaran kerugian).
Secara evolusioner, leluhur kita di padang sabana lebih baik memprioritaskan rasa takut kehilangan ketimbang hasrat untuk mendapatkan sesuatu. Kehilangan makanan berarti mati. Mendapatkan makanan ekstra hanya berarti kenyang. Itulah mengapa, secara neurologis, rasa sakit akibat kehilangan terasa dua kali lipat lebih kuat daripada kebahagiaan karena mendapatkan sesuatu dengan nilai yang sama.
Ketika kita membaca kata "diselamatkan" pada Program A, otak kita melihatnya sebagai sebuah keuntungan (gain). Saat berhadapan dengan keuntungan, kita cenderung main aman. Kita ingin mengunci kemenangan itu.
Namun, ketika kata itu diganti menjadi "mati" pada Program C, amygdala di otak kita—pusat alarm rasa takut—langsung menyala. Kata "mati" melambangkan kerugian permanen. Karena kita sangat benci dengan kerugian yang pasti, kita tiba-tiba rela berjudi dan memilih Program D. Kita berharap pada peluang sepertiga agar terhindar dari rasa sakit akibat kehilangan.
Data statistiknya sama. Nilai objektifnya sama. Namun bingkainya berbeda, dan emosi yang dipicunya pun berbeda drastis.
Mempelajari semua ini mungkin membuat kita merasa seolah otak kita ini gampang sekali ditipu. Jangan merasa buruk. Itu wajar. Ini bukan tanda kebodohan, melainkan bukti bahwa kita adalah manusia. Sistem operasi di kepala kita memang dirancang untuk bertahan hidup di alam liar masa lalu, bukan untuk mengurai probabilitas statistik yang rumit.
Namun, memahami The Framing Effect memberi kita sebuah kekuatan super yang baru. Kita jadi punya kendali.
Mulai sekarang, ketika teman-teman dihadapkan pada sebuah keputusan besar—entah itu tawaran investasi, diskon belanja, atau bahkan prosedur medis dari dokter—ambil napas sejenak. Jika dokter berkata, "Tingkat keberhasilan operasi ini adalah 90%," cobalah bingkai ulang secara sadar di dalam pikiran kita. Tanyakan pada diri sendiri, "Apakah saya siap mengambil prosedur ini jika diberi tahu bahwa ada 10% kemungkinan gagal dan saya tidak selamat?"
Dengan membalikkan bingkai tersebut secara sengaja, kita sedang memaksa prefrontal cortex—bagian otak yang rasional dan logis—untuk ikut campur. Kita mematikan sejenak autopilot emosional kita.
Kita mungkin tidak akan pernah bisa lepas dari bingkai cerita dunia ini. Karena pada dasarnya, segala sesuatu di sekitar kita sedang dibingkai oleh seseorang. Tetapi setidaknya, kini kita tahu cara mengganti lensa kacamata kita sendiri, sebelum memutuskan ke arah mana kita akan melangkah.